Thursday, January 27, 2011

Januari...

Hwaaaa.. Sudah Januari saja.
Hmm... Desember yang baru saja berlalu, seperti apa yah? Kenapa cepat sekali berlalu?
Setelah di ingat2, Desember tahun lalu bukan sama sekali tanpa kesan. Banyak kesan malah. Tapi, mungkin karena aku sedang menunggu2, tepatnya kami sedang menunggu-nunggu, makanya aku tidak sadar bahwa Desember sudah berlalu.

Ada banyak sekali perbedaan Desember tahun lalu dengan 2 tahun lalu.
2 tahun lalu, aku melewati Desember dengan terseok-seok. Mencoba bangkit dari masa lalu, dan menghadapi masa depan. Tapi, Desember tahun lalu, semuanya seperti sudah lengkap. Seorang pendamping yang luar biasa, sebuah tempat tinggal yang nyaman, orang-orang tersayang yang ada dalam kondisi sehat, dan janin yang ada dalam rahimku... :)

Desember yang akan datang, seperti apa yah kira-kira...
Desember akan selalu menjadi favoritku. Tapi, saat ini, ada hal besar dan luar biasa yang sedang aku nanti2kan... Cepatlah hadir di tengah2 kami sayang.... :)

Friday, October 1, 2010

Rumah

Aku rindu menulis. Setelah –entah inspirasi dari mana – aku tiba-tiba ingin berkunjung kembali ke blog yang sudah sangat lama aku tinggalkan, membaca kembali satu persatu tulisan yang pernah aku buat, dan aku merindukan menulis kembali…
Rasanya sudah sangat lama, dari tulisan terakhir yang aku posting. Dan segala sesuatunya sudah sangat jauh berubah… Aku tidak lagi sendiri sekarang. Juga bukan lagi seseorang yang merana karena putus cinta. Aku sudah menikah. Dan bahkan, sudah menjadi calon ibu… :)

Dalam kurang lebih 9 bulan ini, Allah memberiku banyak sekali hadiah. Mulai dari seorang laki-laki luar biasa yang begitu mudah untuk jatuh cinta kepadanya, janin di dalam rahimku, sampai sebuah tempat tinggal yang insya Allah sebentar lagi kami tempati.

Ya. Sebuah rumah. Untukku, suamiku, dan anak-anak kami. Sebuah rumah yang membuat kami menjadi keluarga yang seutuhnya. Rumah yang kami upayakan sampai tetes rupiah terakhir. Tidak besar memang, dan tidak mewah. Tapi, sangat cukup bagi kami. Dan dirumah itulah, akan kami bangun keluarga kami. Melalui hari demi hari bersama, menghadapi setiap masalah yang akan terjadi. Tertawa bersama, bersedih bersama, apapun lah yang penting tetap bersama. Dan semoga, kami akan tetap memiliki sebuah rumah untuk kami tempati bersama, di surga nanti…. :)

Thursday, January 7, 2010

Kadang kita memang sangat sangat butuh untuk berbagi dengan orang yang senasib dengan kita. Orang yang juga merasakan hal yang sama dengan yang kita rasakan. Bukan cuma sekedar orang yang bersimpati dan memandang situasi dari sudut pandang mereka lalu mencoba memberikan masukan2 dan dukungan semangat.

Yah. Semuanya terasa sangat berbeda ketika kita bisa bertemu langsung dengan orang yang mengalami peristiwa yang sama dengan kita. Orang yang juga merasakan sakit yang sama, luka yang sama, dan keterpurukan yang sama.

Selama ini, aku hanya bercerita dan meminta orang lain untuk mendengarkan. Aku hanya berusaha membentuk opini mereka dan secara tidak langsung meminta mereka mendukung apa yang aku lakukan. Aku meminta mereka membenarkan apa yang aku lakukan. Dan pada akhirnya membuat mereka memberikan simpati dan dukungan terhadap apa yang aku lakukan. Mereka tidak pernah tau persis apa yang sebenarnya terjadi. Tidak pernah mengerti benar kenapa semua ini terjadi.

Tapi, ketika kita bertemu dengan orang yang mengalami hal yang sama, tak perlu banyak bicara. Tidak perlu membentuk opini dan tidak perlu meyakinkan mereka bahwa kita benar. Karena orang tersebut sudah mengerti apa yang kita rasakan. Sudah paham. Sudah tahu. Bahkan terkadang orang tersebut yang mendeskripsikan untuk kita apa yang ada di pkiran kita.


Hhhh.... rasanya luar biasa menenangkan... =)
Terima kasih untuknya...
Terima kasih..... Ya Allah..... Engkau baik sekali..... :)

Wednesday, December 30, 2009

Desember

Ga terasa udah hari ke-30 di bulan Desember. Hhh... Desember kali ini seperti tergesa-gesa. Sekedar mampir, berbasa basi dengan satu dua kata, setelah itu langsung berlalu. Bukan sama sekali tanpa kesan, hanya saja terlalu terburu-buru untuk menyadari apa yang sebenarnya dititipkan oleh Desember kali ini...

Aku memulai Desember masih dengan kenangan lama, kemudian menjalani dan menutup Desember dengan suasana baru... :)
Desember ini, hatiku terluka. Tapi, sudah kutemukan obatnya. Dan aku rasa, aku sudah cukup kuat untuk menjalani hari2 ke depan.
Desember ini aku bebas. Bebas dari perasaan2 tidak menyenangkan yang tidak seharusnya aku alami. Bebas dari mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Bebas dari menangisi hal2 yang tidak semestinya ditangisi. Yahh... bebas...
Desember ini aku mulai menata hati dan membuka diri. Bukan untuk 'yang terbaik', tapi untuk yang telah membuat hati ini merasa luar biasa nyaman.. :)
Desember ini aku memulai kembali, sesuatu yang aku harap tidak akan pernah memiliki akhir seperti sesuatu yang berakhir di Desember ini...

Monday, November 16, 2009

Delivery Order dan Musim Hujan

Hujan sepertinya sudah mulai sering berkunjung ke tengah2 kita :) Terlebih dalam 2 minggu terakhir, hampir setiap hari kita mendapat kunjungannya. Yaahh... banyak yang bersuka cita (termasuk gw), tapi banyak juga yang berkeluh kesah. Memang tidak semua orang menyukai hujan. Ada yang beranggapan hujan menghambat aktivitas mereka.

Hari ini, tepatnya tadi pagi, hujan kembali datang. Dan kali ini sangat deras. Tidak banyak yang bisa dilihat dari lantai 5, lantai tempat gw bekerja. Jadilah, gw dan teman2 sekantor berniat untuk pesan antar makan siang. Jam 11.15 gw melakukan pemesanan. Gw dijanjikan akan ditelepon balik untuk konfirmasi pemesanan. Tapi, setelah 30 menit menunggu, konfirmasi belum juga gw dapatkan. Ga sabar nunggu, akhirnya gw telepon balik. Dan jawaban yang gw dapatkan sudah gw prediksi sebelumnya. Perusahaan itu menerima lebih dari 35 pesanan pesan antar saat itu. Entah pesanan gw ada di urutan ke berapa. Kalo gw masih mau tetap memesan, mereka menjanjikan paling cepat jam 1/2 2 pesanan akan tiba di kantor. Pyuuuhhh... Of Course, big NO. Akhirnya, gw membatalkan pesanan.

Ternyata banyak orang yang mengandalkan jasa pesan antar pada saat hujan turun dengan sangat derasnya. Tapi sayang, pelayanan jasa pesan antar - bahkan untuk restoran yang sudah sangat terkenal dengan layanan jasa pesan antarnya - tidak sanggup memuaskan seluruh permintaan pesan antar yang datang saat cuaca sedang tidak bersahabat. Padahal, kelebihan dari layanan pesan antar adalah bahwa pelanggan tidak perlu repot2 datang ke tempat makan yang diinginkan, cukup dengan menelepon dan permasalahan mengenai mengisi perut yang sedang kosong terselesaikan. Tapi, kenyataannya pesan antar masih banyak mendapat keluhan dari masyarakat. Terutama ketika cuaca sedang buruk.

Tidak bermaksud menyalahkan jasa pesan antar di Indonesia, cuma kepengen aja ada yang kayak di film spiderman, 30 menit sampai tujuan, telat 1 menit aja pelanggan boleh ga bayar... :D

Thursday, November 12, 2009

Tambal Ban Depan Gedung Graha Pemuda Senayan

Hufff... Apa yang lebih membetekan daripada ban bocor dalam perjalanan ke kantor pagi hari? Selama pindah ke kantor baru, gw lebih pilih pulang pergi kantor dengan membonceng temen kantor yang rumahnya ga jauh dari rumah gw :p Asli, bisa hemat 80%.. :D Biaya yang semestinya gw keluarkan buat gonta-ganti naik angkot gw pake aja buat patungan beli bensin motor temen gw itu.

Dan hari ini, pertama kalinya kami ngalamin yang namanya ban bocor. Dan ga tanggung2 lokasinya di Senayan (depan TVRI) ketika kami mau putar balik di depan Kantor MenegPora. "Di daerah kayak gitu mana ada tukang tambal ban", pikir kami. Membayangkan mesti jalan kaki nyari tukang tambal ban yang ga tau ada di mana, bikin bete juga. Temen gw nawarin gw naik taxi aja. Cuma... yah.. for the sake of solidarity, gw lebih pilih nemenin dia nyari tukang tambal ban.. :p

Singkat cerita, gw kepikiran untuk nanya sama Satpam yang kerja di kantor Meneg Pora. Yahh, siapa tau Bapak Satpam yang pasti lebih hafal daerah situ bisa kasih petunjuk di mana tukang tambal ban terdekat. Ternyataa.... ada tukang tambal ban ga jauh dari situ. Tepatnya di depan Graha Pemuda yang ada Bank BRI dan ATM BNInya... ^_^

Tukang tambal ban ini, beda dengan tukang tambal ban pada umumnya. Ga ada kios, kompresor, dan peralatan2 lain yang biasa dipajang oleh tukang tambal ban. Cuma ada meja besar, tempat untuk meletakkan peralatan-peralatan seadanya, pompa angin manual (itu lho yang biasa buat mompa sepeda), dan alat buat tambal ban. Tapi, jangan salah, meskipun dengan peralatan yang sangat sederhana, Bapak tukang tambal ban bisa mengerjakan pekerjaannya dengan sangat profesional. Bahkan, ganti ban baru pun bisa dilayani di tambal ban ini. Biayanya Rp30.000. (akhirnya temen gw lebih pilih ganti ban baru, karena posisi bocor ban berada di bekas tambalan). Proses penggantian ban baru ini pun tidak lebih dari 7 menit. Setelah ban baru berhasil dipasang, Bapak tukang tambal ban mengisi angin di ban baru dengan menggunakan pompa angin manual. Setelah itu.. selesai deh..

Setelah membayar Rp30.000, kami pun melanjutkan perjalanan ke kantor dan tiba di kantor 15 menit lebih lama daripada biasanya. Masih ada setengah jam sebelum jam masuk kantor.. :)
Hhmm... benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan tukang tambal ban di tempat seperti itu. Tukang tambal ban dengan peralatan sederhana, tapi sangat profesional. Terima kasih Bapak Tukang Tambal Ban di depan Gedung Graha Pemuda Senayan.. :)

Saturday, October 3, 2009

Thanks to ...

Dulu...

* Hari jumat
Pegawai swasta : Iihhh.. kok lo pake batik siih..??
Pegawai negeri : Iya niih.. kalo Jumat wajib pake batik dari kantor. Lo enak ya, kalo jumat boleh pake kaos + jeans.
Pegawai swasta : Iya doonk.. Hari gini masih pake batik. Kayak orang mau kondangan aja.

* Nonton TV
A : Kok channelnya di ganti?
B : Bosen ah, lagi ada pertunjukan reog. Ntar aja kalo dah UNGU baru diganti lagi.

* makan siang
A : makan di mana?
B : di Hokben aja yuk, ato KFC?
A : Kalo masakan Padang lo lagi ga pengen ya?
B : uummm.... ga ah.. males.

***

situasi-situasi di atas, kalo boleh jujur, bukan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Gw pribadi pernah mengalami ketiga situasi di atas (well, not exactly that kind of situation of course). Dulu, kita bukanlah bangsa yang menghargai budaya sendiri. Gw ga percaya kalo ada anak muda zaman sekarang yang lebih pilih nonton wayang kulit dibanding konser Peter Pan, UNGU, ato apalah. Bahkan gw sendiri ga tau tari yang berasal dari Aceh selain tari Saman. Kalo boleh jujur, kita bukanlah bangsa yang menghargai budaya kita sendiri.

Tapi.....
Sejak muncul berita mengenai negara tetangga yang mulai mengklaim budaya milik Indonesia satu persatu, mendadak kita menjadi bangsa yang cinta Tanah Air. Cacian dan makian terang2an kita tujukan untuk negara tersebut. Kita mengatakan siap melakukan apapun untuk mempertahankan budaya kita, supaya tidak di ambil oleh bangsa lain. Wow... Hebat bukan..??

Ternyata harus seperti itu. Untuk membuat kita sadar, bahwa Negara ini adalah harta yang sangat berharga yang harus dijaga oleh setiap manusia yang hidup di dalamnya. Harus ada yang tercuri dulu, baru kemudian kita sadar bahwa masih banyak yang lain yang harus kita pertahankan.

Di luar perasaan gregetan gw liat Malaysia yang ternyata lebih cinta atau lebih aware dengan kekayaan budaya Indonesia, gw pribadi mau mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada masalah ini, mungkin budaya Indonesia yang sangat beragam akan tinggal menghitung waktu untuk kemudian hilang begitu saja. Batik hanya akan dikenakan oleh orang2 tua saja dan hanya dalam acara2 formal. Mungkin dalam 20 tahun lagi tidak akan ada lagi profesi dalang Wayang Kulit, karena generasi tua bangsa ini sudah tidak ada, dan sudah tidak ada lagi yang menganggap pertunjukan Wayang kulit sebagai pertunjukan yang menarik untuk ditonton.

Kalau saja kesadaran akan penghargaan terhadap budaya Indonesia dimiliki oleh semua (atau sebagian saja lah) bangsa Indonesia, kita tidak perlu khawatir akan kemungkinan pencurian budaya bangsa ini oleh bangsa lain. Harusnya kita memiliki hak paten atas semua kebudayaan yang dimiliki bangsa ini. Hak paten yang diakui oleh dunia. sehingga, tidak ada alasan bagi bangsa lain untuk mengklaim budaya kita sebagai budaya mereka. Tapi, kenyataan sekarang, bahkan masih sulit bagi kita untuk mengetahui pasti ada beerapa banyak suku pedalaman yang ada di Indonesia. Apa saja tradisi mereka, makanan pokok mereka, tarian atau upacara keagamaan mereka?

Ayo donk Indonesia. Jangan cuma bisa marah atau menghujat kalau ada yang mau mengklaim budaya kita sebagai budaya mereka. Jangan biarkan pengklaiman budaya kita, kita harus membuat hak paten atas setiap budaya yang kita punya. Kerja berat memang. Tapi itu konsekuensi dari menjadi rakyat negara ini. Negara yang kaya budaya.

And for Malaysia, I wanna say Thank You. For making us realize that we have Pendet, Reog, Batik, and the other things you try to possessed. Maybe someday, I won't surprise that you'll try to possess something that we don't even know that it's ours...

Sunday, September 27, 2009

Jakarta Belum Pulih

Terakhir online facebook (which is semalem), gw liat banyak temen-temen gw yang pasang status tentang keengganan mereka menghadapi Jakarta hari ini. Alasannya karena hari ini hari senin, hari orang-orang yang pada cuti masuk kembali, dan hari di mana Jakarta akan kembali normal lagi (baca: macet gila).

Ternyata, hari ini gw berangkat ngantor jalanan MASIH ada yang lengang tuh. Meskipun di beberapa tempat yang emang biasanya padet, hari ini udah padet. Tapi, di beberapa ruas jalan yang biasanya ga kosong, hari ini masih kosong.

Menurut gw Jakarta belum pulih. Gw ga percaya jumlah mobil yang selama berhari-hari bikin jalur pantura macet total, cuma bikin Jakarta sepadat tadi pagi. Apalagi di tambah mobil-mobil yang emang selama liburan kemaren tetap tinggal di Jakarta, alias ga kemana-mana. Harusnya, tidak bersisa banyak jalan kosong di Jakarta.

Belum, Jakarta belum pulih. Setidaknya, belum tadi pagi. Kita lihat saja besok... :D

Wednesday, September 23, 2009

Mudik

Berhubung tema mudik masih jadi perbincangan seru di banyak acara berita, gw juga mau nulis soal pengalaman mudik gw kali ini ah... :D

***

Seperti tahun2 kemaren, tahun ini pun gw sekeluarga merayakan lebaran di kampung halaman tercinta. Dari tahun ke tahun, perjalanan mudik selalu menjadi perjalanan yang menyenangkan dan sangat ditunggu2. Tapi, sejak beberapa tahun terakhir, perjalanan mudik tidak lagi semenyenangkan sebelumnya. Pasalnya, beberapa tahun terakhir, perjalanan mudik identik dengan MACET. Dan jadilah, perjalanan Jakarta-Sukoharjo pada tanggal 18 September kemaren menghabiskan waktu 30 jam... T_T Padahal, perjalanan normal memakan waktu tidak sampai 12 jam.

Jumat kemaren, rasanya semua mobil di Jakarta pindah ke jalur pantura. Herannya, mobil sebanyak itu, yang dengan suksesnya membuat jalur pantura macet sampe tiga hari berturut-turut, mobil-mobil itu setiap hari nongkrong di Jakarta. Ga aneh emang kalo ga ada ruas jalan di Jakarta yang bebas macet.

Meskipun bete karena jalanan yang luar biasa macet, tapi tetap mudik kali ini pun punya banyak cerita. Gw bersyukur bisa mudik bareng keluarga gw, naik kendaraan pribadi, dan bawa perlengkapan yang lengkap. Di perjalanan, banyak gw temukan rupa-rupa pemudik yang - menurut gw - tidak lebih beruntung dari gw.

Ada yang mudik naik mobil pick up, yang bak terbukanya di tutup terpal. Di bawah terpal itu, ada sekitar 6-7 orang termasuk anak-anak. Mereka semua duduk (atau tidur) beralaskan tikar dan beratapkan terpal. Kebayang ga sih kalo siang panas terik gitu apa rasanya... Belum lagi yang nekat mudik naik mobil box. Mobil yang emang diciptakan buat ngangkut barang (dan karena itu ga ada lubang jendelanya) di paksa buat ngangkut orang. Biar ga terlalu panas, pintu belakang di buka sebagian sambil diiket tali rafia. Kalo pas siang, mungkin rasanya ga jauh beda ama di oven.

Cerita pemudik yang naik motor, beda lagi. Hhmmm... Kalo gw bilang, sebagian besar dari para pemudik berkendaraan motor itu, modal terbesarnya adalah nekad. Gimana nggak, menempuh jarak ratusan kilometer dengan mengendarai motor, ditambah tas ato barang bawaan yang ga sedikit, ditambah dua anak, yang satu masih bayi pula... Ckckck... (Gw aja yang udah di atas 20 tahun, langsung nolak mentah2 kalo ada yang ngajak mudik naik motor. Kayak apa rasanya badan. Nah ini... anak bayi bo'...) Anak yang lebih besar, biasanya di taruh di depan si Bapak yang mengendarai motor. Kalo gw sih mikirnya, kasian banget ga sih tuh anak, jadi tameng angin Bapaknya untuk jarak ratusan kilometer.

Pada saat arus mudik sedang puncak2nya, jangan kaget kalo SPBU berubah jadi pasar. SPBU emang jadi tempat favoritnya para pemudik untuk melepas lelah setelah menempuh jarak jauh. Makanya jangan heran kalo pas puncak2nya arus mudik, satu SPBU bisa diserbu oleh ratusan kendaraan (baik mobil ato motor) yang ingin sejenak melepaskan lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Akibat dari penuhnya SPBU ini adalah antrian kamar mandi yang mirip dengan antrian sembako. Maklum, siapa yang ga butuh kamar mandi? :p

Anyhooooo... Terlepas dari betapa berat dan sengasaranya kisah-kisah para pemudik. Tapi, ga pernah tuh gw denger ada yang berkeluh kesah. Ga ada tuh yang terlihat tidak bahagia. Peristiwa setahun sekali, pulang ke kampung halaman, ketemu dengan keluarga yang ditinggalkan, dan akhirnya bisa merayakan hari raya bersama... Untuk semua itu, akhirnya orang bisa melakukan apa saja demi bisa mudik...

And... at the end... I love mudik... :)

Wednesday, September 16, 2009

No Tittle

Menganggapi komentar seseorang tentang ketidakkonsistenan gw nge-blog, akhirnya gw memutuskan untuk posting sesuatu deh... :p

***

sedang menata hati untuk perubahan yang luar biasa besar.
Pertemuan itu memang seringkali menyenangkan. Dan pertemuan yang menyenangkan pasti akan membuat perpisahan yang menyedihkan. Mungkin banyak orang yang ketika dihadapkan pada perpisahan yang menyedihkan, akhirnya lebih memilih lebih baik tidak pernah bertemu sekalian, sehingga tidak usah bersedih.

Tapi gw bersyukur, gw pernah mengalami pertemuan yang menyenangkan itu. Pertemuan yang akhirnya berlanjut pada hari-hari yang juga menyenangkan. Gw bersyukur karena pernah mengalami semua itu. Kalau pada akhirnya, sekarang gw harus berurusan dengan perpisahan yang menyedihkan itu, gw terima... :)

Monday, February 9, 2009

My Light

I’m so damn tired. Of hoping, wishing, waiting for my light come to my life. Someone detains my light. For a reason, she doesn’t want to give my light away. It is because someone else keeps her light. It’s not that she doesn’t want to give me my light, but because my light makes her alive.
Then, I almost give up. This stupid chain, why must appear in my life? I can’t even talk to her how I need my light so much. And for a so called damn ‘reason’, I might have to give up. Even though I don’t want to, but there’s no way out for me.

Friday, December 5, 2008

Eclipse by Stephenie Meyer


Eclipse.. Check..


I finished it in 4 days. Need a longer time than the two before coz I read it on weekdays. Finally I got used to with the kind of love they have. And for me, as long as Bella and Edward together, the story is gracious. Hayyah… ini gw kok jadi lebay gini :p

And now, I’m waiting for Breaking Dawn to release.

Nice…

Monday, December 1, 2008

New Moon by Stephenie Meyer



Yup.

I had finished ‘New Moon’. I started to read it on Saturday night and finished it on Sunday noon. :p Of course I couldn’t stop it. Knowing that Edward is far away from Bella, somehow, made me can’t wait any longer to know what will happen.

Even though I still can’t understand their love, but I still love this one just like the first one. :)

And now, I’m working on ‘Eclipse’.

Nice

Thursday, November 27, 2008

Twilight by Stephenie Meyer



Although it’s hard to believe that the kind of love that Edward has to Bella (and vice versa) does really exist, I think the book is nice. I almost can’t stop it. Somehow, for a while it brought me out of the real world. (lebay mode on :p)

Anyhoo… I like it sooo much… can’t wait to read the second and the third, and of course, watch the movie.

Nice J

Tuesday, November 18, 2008

Sang Pemimpi

Hari ini gw baru aja menamatkan lembar terakhir dari novel ‘Sang Pemimpi’ karya Andrea Hirata. Yah… bisa di bilang gw terlambat. Di kala orang2 sudah tertulari semangat Laskar Pelangi dan mungkin banyak sekali orang yang sudah mulai menanamkan semangat tersebut di dalam diri masing2, gw baru saja mau memulai buku yang ketiga. Gw aja baru mulai memutuskan untuk membaca Laskar Pelangi setelah menonton filmnya. Sebetulnya gw udah lama diberitahu oleh banyak orang untuk membaca novel Laskar Pelangi. Tapi berhubung gw dah antipati dengan buku2 motivasi hidup, dan karena dari judulnya gw menafsirkan bahwa buku Laskar Pelangi juga merupakan buku tentang motivasi hidup, maka gw memutuskan untuk tidak akan pernah membaca buku tersebut. Yes, gw antipati dengan buku2 mengenai motivasi hidup. Karena entah mengapa, buku2 tersebut sepertinya menganggap bahwa cara pandang si motivator (yang juga adalah penulis bukunya) adalah cara pandang yang benar tentang hidup. Dan pada akhirnya, menyuruh kita untuk memiliki cara pandang yang sama. Yah, singkatnya gw kurang suka ada orang yang menggurui gw tentang bagaimana gw menjalani hidup gw, padahal hidup gw dengan hidup dia sama sekali berbeda. Hehehe... (sombong kali gw ini :p)

Ternyata Laskar Pelangi beda dengan bayangan gw. Akhirnya, gw harus menjilat ludah gw sendiri yang sudah bersumpah serapah ga mau baca tuh buku. Dan segera setelah gw menamatkan buku pertama, gw langsung berniat membaca yang kedua, ketiga, dan keempat. Jadilah, tadi sore gw menamatkan Sang Pemimpi. Setelah gw membaca novel yang kedua ini, gw langsung bilang ke temen2 gw bahwa gw jatuh cinta dengan si penulisnya. Jatuh cinta disini sama sekali bukan makna konotasi, meskipun mungkin sedikit berlebihan :p. Gw bahkan sempet berandai-andai bisa berkenalan langsung dengan si penulis dan bisa mengenal sosok Andrea dalam kehidupan sehari-hari (halah). Yah... tapi hal tersebut hanyalah sebuah ’andaikan’. Gimana bisa gw kenalan sama seseorang yang namanya sudah dikenal seantero nusantara dan bahkan sampai luar negeri? Mimpi.. :D

Terlepas dari kekaguman gw dengan Andrea Hirata, membaca Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi menimbulkan pertanyaan besar dalam diri gw sendiri. Apa sebenernya mimpi gw? Apa cita2 gw? Dan yang membuat gw sendiri kaget adalah, gw baru menanyakan hal itu ke diri gw sendiri sekarang, setelah membaca dua novel yang sebelumnya sempet ga mau gw baca. Selama ini gw cuma menjalani hidup gw apa adanya. Just go with the flow. Even without ever wondering where the flow will take me. Gw heran, ternyata kekuatan mimpi itu bener2 ada yahh… Dan bagaimana akhirnya, kekuatan yang sangat abstrak itu bisa menghasilkan hal2 besar.

Apa sebenernya mimpi gw? Berhari2, setelah membaca Laskar Pelangi dan dalam masa2 menamatkan Sang Pemimpi, pertanyaan itu muncul di benak gw. Apa yahh..? Perasaan ga muluk2 deh. Gw sama sekali ga bisa menemukan sebuah tempat sedahsyat Sorbonne ataupun ide sefantastis menjelajahi Eropa sampai Afrika di mimpi gw. Berkali2 gw menanyakan ke diri gw sendiri, apa bener ga ada hal2 menakjubkan di mimpi gw. Berkali2 juga gw mendapatkan jawaban yang sama. Gw cuma punya satu mimpi. Membahagiakan orang tua gw. Titik. Sangat2 abstrak dan sama sekali tidak memiliki tolak ukur keberhasilan yang jelas. Tapi, yah.. itulah mimpi gw. Mimpi yang sampai detik ini masih gw usahakan.

Gw mau melanjutkan mimpi Bapak gw dulu. Mimpi yang sering kali diceritakan ke kami, anak2nya dan akhirnya menancap kuat di pikiran gw. Bapak kepengen banget membuat penyimpangan besar dalam daftar mata pencarian yang digeluti keluarga kami sejak kakek moyang gw dulu. Di mana petani menjadi mata pencarian terbanyak yang pernah dilakoni oleh pendahulu2 gw. Sisanya, pedagang, buruh pabrik, menggarap sawah sewaan (menurut gw ini beda dari menjadi petani di sawah sendiri), dan profesi2 lainnya yang membuat keluarga kakek2 gw dulu masuk ke dalam golongan masyarakat biasa-biasa saja, bahkan mungkin kurang biasa.

Entah dapet ilham dari mana, Bapak tiba2 melakukan gebrakan dengan nekat kuliah. Di kala temen2 sebayanya di kampung mencoba mencari pekerjaan dengan berbekal ijazah SMA, dan ujung2nya menjadi petani juga. Mbah kakung gw sendiri dah terang2an bilang ga sanggup membiayai kuliah Bapak. Tapi, Bapak tetep nekat. Akhirnya, Bapak berangkat ke Solo untuk mendaftar, apa ya namanya waktu itu (kalo sekarang sih sebutannya SPMB), dengan uang hasil menjual ayam ternaknya yang cuma beberapa ekor termasuk anak2nya. Dan entah bagaimana, Bapak gw sendiri aja sampe heran, beliau di terima di Fakultas Sastra UNS. Jurusan sastra juga dengan terpaksa di pilih Bapak karena dulu SMA Aliyah hanya boleh memilih jurusan IPS SAJA. Padahal mata pelajaran favorit Bapak dulu adalah Biologi. Tapi karena ingin kuliah, maka jurusan apa saja Bapak pilih, asal bisa kuliah. Dan sejak itu, Bapak gw menjadi satu2nya pemuda di kampungnya yang melanjutkan pendidikan setelah tamat SMA.

Singkat cerita, sampai lah Bapak di Jakarta, cuma bermodal nekat. Dan sekarang Alhamdulillah, kami sekeluarga bersyukur, mimpi Bapak bisa terwujud. Setidaknya untuk keluarganya, Bapak dianggap sebagai pendobrak yang meningkatkan martabat keluarga. Sayangnya, ya sayangnya, semangat mendobrak keadaan keluarga hanya di miliki oleh Bapak gw doang. Kenyataannya bude2 dan bulik2 gw keadaannya masih begitu2 aja. Hhhh....

Jadilah, mimpi itu ditularkan oleh Bapak ke gw. Ditambah melihat keadaan keluarga besar gw yang begitu2 aja, membuat gw semakin berkeinginan menjadi orang sukses. Yah gw tau, pengertian sukses sangatlah relatif. Tapi, sampai saat ini gw mengartikan sukses sebagai memiliki rumah besar, ada kolam renangnya, dan bisa jalan2 ke luar negeri dengan mudahnya... Hehehe... sangat materialistis... Tapi, ya itulah, definisi sukses yang ada di pikiran gw sekarang. Atau bisa di bilang sukses buat gw adalah memiliki hal2 yang belum gw, ataupun keluarga besar gw, miliki. Dan semua yang gw sebutkan tadi mewakili hal2 tersebut.

And I’m still working on my dream, my Dad’s dream. Menjadi orang sukses….



PS: Gw heran bagaimana Mas Andrea Hirata melalui tulisannya, bisa membuat gw membuat curhatan sepanjang ini… :p

Tuesday, October 7, 2008

I'll do it, for a better life...

Seseorang menyadarkan gw tentang betapa lemahnya gw. Ya, dia bilang bahwa kebersamaan dia dengan gw yang sudah berjalan beberapa tahun ini membuat gw semakin melemah. Dia juga bilang kalo dia dulu menemukan gw dalam keadaan yang jauh lebih tangguh dari gw yang sekarang.

Pyuhhh...
Rasanya seperti di tampar, di tonjok, ato di apain lah yang sebangsa itu. Yang bekasnya masih saja terasa nyeri. Tapi, dia benar, bener banget. Gw sendiri ngerasa kalo gw terlalu bergantung sama dia. Hampir setiap hal yang gw alami gw ceritakan ke dia. Hampir setiap masalah yang gw punya gw bagi dengan dia. Dan hampir semua tangis gw tumpahkan di depan dia. Mungkin karena itu gw jadi sering merasa ga bisa ngadepin masalah yang dateng, sendirian. Dan setiap kali gw ngerasa stress ato pun sedih, tangan gw selalu bergerak mencari handphone kesayangan, memanggil nomernya, dan menggulirkan cerita demi cerita.

Hhhh...
Somehow I don't like this. Kebergantungan dan melemahnya gw, semua itu bikin gw merasa... ya... ga banget aja. Keberadaan dia harusnya sama sekali bukan alasan buat gw untuk kemudian jadi sangat mengandalkan dia dalam hidup gw dan... melemah. Dia emang ga pernah keberatan pasang kuping buat dengerin semua hal2 ga penting yang gw ceritain. Ga pernah juga bosan mendengar gw mengangis atau menggerutu. Tapi, justru itu masalahnya. Bagaimana kalo suatu hari dia pergi. Ketika gw harus kehilangan tempat curhat terbaik gw? Bagaimana kalo di tengah2 semua kenyamanan yang gw rasakan dengan kehadirannya, tiba2 gw harus kembali sendiri? Gw takut gw ga bisa. Padahal hidup harus terus berjalan.

Huff...
Gw merasa hari ini, ada semangat baru yang gw temukan. Bukan untuk menyingkirkan dia dalam hidup gw. Tapi untuk lebih mandiri dalam hidup gw sendiri. Kembali ke masa2 lalu, sebelum dia datang dalam hidup gw. Hidup itu memang rentetan masalah. Dan setiap orang pasti punya masalah mereka masing2. Kalau di luar sana ada jutaan manusia yang bisa survive menjalani hidup mereka sendirian, kenapa gw harus gagal.

Gosh...
Dan gw harus memulai lagi. Belajar melakoni hidup gw dengan lebih baik. Menjadikan dia tempat berbagi cerita dan bukan sekedar membebaninya dengan masalah2 hidup gw. Mengikhlaskan setiap telpon gw yang tidak terjawab olehnya dan bukan memarahinya karena ga ada ketika gw sedang ada masalah.

Hmmm...
Gw sendiri juga ga tau apakah gw bakalan bisa ato ngga. Karena 6 tahun, bukan waktu yang singkat untuk membuat gw menjadi terbiasa. Tapi, gw pasti coba. Karena ini hidup gw :)

Tuesday, September 23, 2008

Breadtalk halal kah?

Mungkin buat penduduk Indonesia (khususnya yang tinggal di kota2 besar), nama breadtalk sudah tidak asing lagi. Produsen roti yang terkenal enak ini memang menjadi buruan pengunjung mall sebagai menu pengganjal perut atau pun sekedar untuk buah tangan. Tapiii.... untuk umat muslim, sebaiknya waspada. Belakangan ini isu mengenai halal atau haramnya breadtalk (dan juga JCo) menjadi topik yang ramai di bicarakan. Maklum saja, merk ini sudah banyak merebut hati masyarakat. Ketika googling kebetulan gw nemu artikel bagus yang bisa di jadikan bahan pertimbangan.

dikutip dari: http://harry.web.id/2008/06/16/breadtalk-halal-atau-haram/

Beberapa waktu belakangan ini, gw agak ragu untuk membeli roti BreadTalk. Pasalnya, gw membaca di salah satu milis langganan gw bahwa label halal dari BreadTalk telah dicabut oleh MUI. Tetapi sampai detik ini saya tidak tahu alasan kenapa dicabut, apakah terjadi penyelewengan aturan sehingga membuat BreadTalk tidak halal lagi, atau apa? Belum ketemu penjelasannya. Sampai pada minggu lalu, pulang dari Bengkulu (9 Juni 2008), turun dari bus DAMRI gw masuk ke Botani Square. Pikir gw, beliin oleh-oleh ah, nggak enak gak bawa apa-apa dari jauh.
Sampai di outlet BreadTalk, gw coba muter-muter nyari logo Halal BreadTalk. Yah, memang nggak gw temuin. Tidak sampai disitu, gw coba tanya ke mbak-mbak kasir BreadTalk. Berikut liputannya:

Gw: Mbak, Kalo BreadTalk itu ada label halalnya nggak ya?
Mbak 1: Oh, kalo kita halal mas, prosesnya pun halal. Dijamin halal deh.
Gw: Maksud saya, BreadTalk punya label halal nggak?
Mbak 1: Kalo label halal kita nggak ada, tapi kita halal kok mas.
Gw: Jadi, BreadTalk nggak punya label halal?
Mbak 2: Kalo untuk urusan label halal itu urusan H.O. mas, kita kan hanya outlet, tapi kita halal kok.

Hmpf.. aneh juga nih mbak2, gw force aja

Gw: Jadi, BreadTalk nggak ada label halalnya ya?
Mbak 2: Kalo itu urusan H.O. mas, mas bisa tanya langsung ke sana.
Gw: (kesempetan nih) ada no telponnya mbak?
Mbak 2: Ada mas, bentar ya, saya panggil manager saya.
Mbak 2: (manggil2 pake tangan) pak petrus.. panggil pak petrus

Kemudian muncullah pak Petrus, sepertinya manager outlet BreadTalk di BotaniSquare.

Petrus: Ada yg bisa saya bantu pak?
Gw: Ini pak, saya mau tanya, kalo BreadTalk itu ada label halalnya nggak ya?
Petrus: Hm… bapak ini dari mana? customer biasa aja?
Gw: Iya, saya hanya customer biasa. Hanya ingin tau.
Petrus: Sampai April ini masih ada pak, tapi sekarang sudah nggak.
Gw: Lho, kok bisa, kenapa ya?
Petrus: Hm.. kalo itu urusannya sama H.O. pak, kalo kita hanya outlet saja, nggak tau apa-apa.
Gw: Ada no telpon yg bisa dihubungi?
Petrus: Oh, ada. 021xxxxxx, dengan Ibu Gita (sorry lupa, ntar gw update, nomernya ada di hp gw yg atu lagi)
Gw: Ok, makasih pak.
Petrus: Kembali..

Jalan menuju pintu depan Boqer, gw telponlah H.O. BreadTalk.

Cewek: Selamat siang, dengan ### bisa dibantu?
Gw: Bisa bicara dengan Ibu Gita mbak?
Cewek: Dari mana ini pak?
Gw: Saya Harry, Customer BreadTalk.
Cewek: Baik, ditunggu sebentar pak.

ting nung teleleng teng teng… teng tong teng… (nada tunggu)

Cewek: Maaf, pak Ibu Gita-nya belum selesai meeting, ada yang bisa dibantu?
Gw: Ini mbak, saya mau tanya tentang label halal BreadTalk, tadi saya tanya outletnya dia bilang hubungi H.O. saja.
Cewek: Oh, baik pak, saya hubungkan dengan Sales Marketing yang lain ya. Silahkan ditunggu…

teng toleng teng teng… lamaaaa, gw ampe mulai berfikir kotor nih… lalu tiba-tiba

Sherly: Ada yg bisa dibantu pak?
Gw: Ini mbak, saya mau tanya, kalo BreadTalk itu ada label halalnya nggak ya? tadi saya tanya sama outlet, katanya sampai April masih ada, tapi sekarang nggak ada. Gimana itu mbak?
Sherly: Memang benar pak, sampai April kami masih ada label halal, tapi sekarang nggak ada karena dalam masa perpanjangan. Soalnya ngurusnya ribet ya pak, dan mahal lagi. Tapi kita halal kok pak, semua prosedur dan metode kita, semuanya mengikuti aturan MUI, hanya sertifikatnya saja belum keluar.
Gw: Oh gitu, berarti tinggal sertifikat ya, semuanya sebetulnya halal.
Sherly: Iya pak, soalnya ribet ya ngurusnya, dan mahal lagi. Tapi kita halal kok pak. Oh iya, bapak ini dari mana ya?
Gw: Saya Harry, customer BreadTalk biasa. Saya suka BreadTalk mbak, tapi saya denger dari Internet kalo label halal BreadTalk dicabut. Nah, saya nggak mau cuman denger-denger aja, makannya saya confirm ke outlet & saya telpon H.O. BreadTalk. Itu berita bener nggak ya mbak?
Sherly: Betul pak, itu berita betul. Dan sekarang kami sedang mengurus perpanjangan sertifikat halal. Cuman kan ngurusnya ribet ya pak, dan mahal lagi.
Gw: Ok, berarti BreadTalk sebetulnya Halal, semua proses & bahan mengikuti aturan MUI ya? Hanya sertifikatnya saja yang belum keluar karena masih dalam proses?
Sherly: Iya pak, benar. Soalnya ngurusnya ribet pak.
Gw: Kenapa, nggak sebelum expired aja mbak diurus?
Sherly: Ya karena ribet itu pak, dan mahal. Jadi sampe sekarang masih diurus.
Gw: Kira-kira kapan selesainya mbak?
Sherly: Hmmm belum tau ya pak, soalnya masih diurus.
Gw: Ok deh kalo gitu, dengan mbak siapa saya bicara?
Sherly: Saya, sherly pak.
Gw: Baik mbak sherly, terima kasih.
Sherly: Sama-sama pak.

Bingung jadinya. Ini yang nggak bener BreadTalk atau MUI? Kalo dibilang ribet & mahal, banyak juga outlet/resto2 kecil yang punya label ini (resmi ya). Hmmm atau mungkin MUI membedakan antara outlet kecil dan besar, sehingga untuk BreadTalk yang internasional, harganya jadi mahal, atau mungkin premanisme/praktek pemerasan?. Harapan saya sih, jika ada label halal yang dicabut/expired MUI bisa memberikan keterangan jelas, misal:

Contoh 1. Sertifikat dicabut: Karena pake Ang Ciu (Arak Merah).
Contoh 2. Sertifikat kadaluarsa: Outlet belum memperpanjang.
Contoh 3. Sertifikat kadaluarsa: Sedang dalam proses perpanjangan.

Begituh… Oke deh, mudah-mudahan info ini berguna. Oh iya, akhirnya: gw gak jadi beli BreadTalk, khawatir aja, soalnya nggak tau nih yang nggak beres disisi siapa, BreadTalk kah? atau MUI?




Monday, September 15, 2008

Indonesia miskin apa?

"Indonesia itu negara yang miskin".
Mungkin kalimat di atas (bener2 di atas-nya baris ini :p), sudah cukup sering kita dengar. Dan seringnya kalo gw denger kalimat ini, gw cuma bisa berekspresi datar sambil dalam hati bilang, "Ah.. dah sering denger... ga heran.. :p" Tapi, belakangan ini, kalimat tersebut menjadi sesuatu yang mengganggu pikiran gw. Hhhmmm... Emang bener ya Indonesia miskin? Emang segitu miskinnya ya Indonesia sampe2 kalimat itu sering dibicarakan?

Jujur, buat gw yang tinggal di Ibukota negara, buat membuktikan secara langsung bahwa Indonesia adalah benar negara yang miskin adalah sesuatu yang sulit. Setiap hari gw melihat mall2 besar di hampir setiap ruas jalan, tetap saja ramai dikunjungi orang meskipun harga BBM baru saja 'disesuaikan' oleh pemerintah. Gw juga heran, kenapa jumlah mall di Jakarta masih saja di anggap kurang ya? Sampe2 pembangunan mall belum juga di rasa cukup. Bahkan belakangan ini gw sering sekali melihat iklah apartemen di tayangkan berkali2 oleh beberapa stasiun TV. Dan hebatnya, apartemen2 baru terus saja bermunculan. Membabat habis setiap lahan kosong di Jakarta.

Yahh.. di Jakarta memang tidak sulit menjumpai pemukiman kumuh di bantaran sungai yang sangat tidak layak huni. Mungkin pemandangan tersebut bisa menjadi dasar untuk menyebut Indonesia sebagai negara yang miskin. Karena di Ibukotanya saja masih terdapat banyak rumah atau lingkungan tidak layak huni. Akan tetapi, jumlah pemukiman tidak layak huni itu tidak juga lebih banyak atau lebih luas daerahnya dibanding kawasan elit seperti Pondok Indah, Menteng, Kemang, Cempaka Putih, Kelapa Gading, dan kawasan2 elit lainnya.

Memang di Jakarta terdapat banyak sekali pengemis, pengamen, anak2 jalanan yang berkeliaran di setiap perempatan jalan atau kawasan2 rawan macet. Tapi, di Jakarta, berprofesi sebagai pengemis atau pengamen jalanan termasuk profesi yang menguntungkan. Sehingga akhirnya, banyak orang yang sebenarnya mampu, ikut2an berprofesi sebagai pengemis untuk menambah penghasilan.
Bagaimana mungkin, negara yang bahkan menjadi pengemis atau pengamen jalanan dijadikan salah satu alternatif profesi bagi sebagian warganya, dianggap sebagai negara yang miskin?

Semakin hari, jalanan Jakarta semakin penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Kemacetan semakin parah, meskipun angkutan transportasi yang mengusung kenyamanan telah secara massal dibuat. Orang masih lebih pilih duduk nyaman di dalam mobilnya masing2 sambil menggerutu dalam kemaetan, atau siap siaga di belakang kemudi motor sambil menahan panas yang menyengat daripada harus naik angkutan umum.

Setiap tahun kepemilikan kendaraan bermotor meningkat pesat. Setiap 3 bulan sekali muncul model baru handphone, notebook, mp3/mp4 player, dan barang2 elektronik lainnya. Hal ini dikarenakan Indonesia menjadi pasar yang menjanjikan bagi produsen2 barang elektronik tersebut. Hhh.... kenapa kalau harga beras, minyak, atau harga kebutuhan pokok lain yang naik, warga protes habis2an. Tapi, kalo ada model handphone terbaru yang baru keluar dengan harga yang cukup mahal, segala cara dilakukan agar bisa membeli produk up-to-date tersebut?

Indonesia adalah negara yang miskin.
Yah.. mungkin kalimat di atas benar. Tapi, justru yang harus ditekankan adalah kenapa Indonesia bisa menjadi negara miskin? Di saat ratusan mall di serbu oleh banyak orang. Di saat mobil, motor, handphone, notebook sudah menjadi barang kebutuhan sekunder. Kenapa Indonesia masih saja tetap menjadi negara miskin?

Sebenernya Indonesia itu miskin apa?

Another 'tempat mampir'

Hhhmmm... satu lagi gw dapet referensi rumah maya yang bagus. Informasi kali ini gw dapet dari temen yang rumah mayanya termasuk ke dalam 'tempat mampir' gw. Temen gw ini lumayan suka mengunjungi rumah maya milik orang. Baik yang dia kenal maupun yang ngga. Dan... tersebut lah sebuah rumah maya dengan alamat rinduku.wordpress.com.

Sebuah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Bukan cuma sebuah rumah yang hanya berisi keluh kesah tentang hidup atau luapan emosi jiwa tentang apa yang diinginkan dan apa yang tidak. Tapi, ada sesuatu yang bisa dirasakan dalam setiap tulisan-tulisannya. Somehow, gw (dan juga temen gw yang mereferensikan alamat ini) suka dengan gaya bahasa ataupun topik2 yang di tuangkan di dalam tulisan-tulisan si empunya rumah maya.

Hhhh... gw jadi kepikiran lagi, soal niat awal dulu membangun sebuah rumah maya. Dulu rasanya seneng banget bisa punya rumah maya sendiri. Bisa punya tempat curhat tentang apa yang gw rasa atau apa yang gw pikirkan. Tapi, rasa senang pada awal pembuatan rumah maya dulu akhirnya terkalahkan dengan kesibukan gw menghadapi serangga (bugs maksudnya :p) demi serangga yang datang :( Dan, entah kenapa, setiap kali bekunjung ke rumah maya-rumah maya yang inspiratif, gw jadi bersemangat lagi untuk benar2 memanfaatkan rumah maya sendiri... :)

Yah.. dilihat sajalah sampai kapan semangat ini bakal bertahan... :p