Tuesday, May 6, 2008

5 cm

Berawal dari keisengan gw ngacak2 kamar adek gw. Dan akhirnya gw menemukannya.. Dilihat dari judulnya, yang terpikir oleh gw adalah sebuah penjabaran mengenai hubungan antara rumus matematika dengan kehidupan manusia, atau paling ngga sejenisnyalah...
Tapi berhubung gw lagi ga ada kerjaan, gw bawa juga ke kamar gw untuk gw baca halaman2 pertamanya dan kemudian memutuskan apakah akan gw baca sampe selesai. Entah kenapa saat itu sama sekali ga kepikir untuk baca sinopsisnya...

Akhirnya bab pembuka selesai dalam hitungan menit. Dan gw langsung jatuh hati. Gw suka banget sama tokoh2 di dalamnya. Terasa begitu nyata. Semuanya bisa gw terima dengan tanpa penyangkalan. Begitu masuk akal dan terasa dekat dengan kehidupan sehari2 gw. Bukan sesuatu yang dilebih2kan ataupun happy ending yang dipaksakan.

Dan gw suka suka suka banget membaca halaman demi halamannya. Sampe ketika halaman yang belum gw baca mulai menipis, gw jadi sedikit sedih. Alamat sebentar lagi semua kesenangan itu akan berakhir. Semua rasa penasaran gw mengenai akhir yang akan terjadi pada tokoh2 di dalamnya pun akan terjawab. Padahal gw suka dengan rasa penasaran yang gw rasakan selama membaca :p

Gw menghabiskan lembar2 terakhir dengan sangat hati2. Gw membaca kalimat demi kalimat dengan pelan sekali. Sambil berharap halaman terkahir masih lama gw balik...

Dan.. sampelah juga gw dihalaman terakhir... Ga ada yang bisa gw lakukan selain tersenyum. Rasanya seneng sekali. Seperti benar2 merasakan sendiri setiap petualangan di dalamnya. Yah, meskipun ending-nya ga terlalu happy sesuai dengan yang gw harapkan. Tapi, justru itulah nilai lebihnya.. Terkadang bahagia tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi ketika kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian dan menganggapnya sebagai rasa sayang Yang Maha Kuasa kepada kita.

Dan... 5 cm adalah tentang sebuah keajaiban mimpi dan keyakinan yang bisa membuat begitu banyak perbedaan yang dapat mengubah kehidupan manusia. Tentang mimpi dan keyakinan yang menjadikan manusia bukan cuma seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan, dan punya nama...

"Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu... jangan menempel. Biarkan dia menggantung, mengambang, 5 cm di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu..."

PS: Thank you so much for Donny Dhirgantoro, for such wonderful lovely reading :)
Favorite Quote (because I am a woman of course):
" Woman was created from the ribs of a man
Not from his head to be above him
Not from his feet to be walk upon him
But from his side to be equal
Near to his arm to be protected
and close to his heart to be loved "

Wednesday, April 23, 2008

Baru aja baca postingan di sebuah rumah maya, yang pemiliknya ga gw kenal. Isinya tentang pembahasan mengenai kerja di perusahan minyak atau gas. Kalo bicara soal perusahaan minyak atau gas, nomer satu yang ada di pikiran gw adalah gaji yang spektakuler. Ya.. mungkin untuk sebagian orang ga spektakuler2 amat. Tapi, buat gw yang notabene baru lulus tahun kemaren, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan minyak/gas, emang cukup menggiurkan.

Kita ga bisa pungkiri, bahwa materi (dalam hal ini uang), emang jadi kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia yang hidup di kota2 besar. Karena manusia2 yang hidup di pedalaman (sebutlah suku dayak, asmat, dll), gw yakin ga ada uang pun mereka masih bisa hidup. Menjadi manusia modern sangatlah mahal. Produk2 baru bermunculan dalam hitungan detik. Iklan yang menyertai produk2 baru tersebut pun dikemas dengan sangat menarik. Membuat hati orang2 yang ga kuat iman luluh. Dan akhirnya melupakan kondisi keuangan mereka. Kalau sudah begini, apapun bisa mereka lakukan untuk bisa membeli produk yang mereka mau.

Maka, tidaklah mengeherankan kalau untuk sebagian orang, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan minya / gas sangat sangat menjanjikan. Tapi, apa bener kebahagiaan (atau sebutlah, kepuasan) bisa mutlak terpenuhi ketika kita memiliki uang banyak?

Di salah satu comment yang diberikan untuk postingan tersebut dikatakan "...gaji gede, tapi pengorbanan yg diberikan masih lebih besar. unnormal family situation...".

Buat gw sendiri, bukannya sok idealis, tapi uang bukan segalanya meskipun gw juga ga bisa pungkiri kalo gw seneng punya banyak uang. Misalnya aja ada kondisi di mana lo lagi naik gunung, dan di tengah2 pendakian lo kehabisan logistik, nyasar, dan udah jauuuuh banget jalan, ga ketemu siapa2. Pada saat kayak gitu lo bawa uang semilyar pun ga akan bisa nolong lo. Kejadian yang mirip kayak gini, gw pernah ngerasain, tapi ga pake nyasar jauuuhh banget :p. Dan, meskipun punya banyak uang, tapi kalo gw ngliat bokap, nyokap, ato siapapun orang yang gw sayang sakit ato sedih... Hhhh.. Jangan ditanya deh gimana rasanya.

Dan untuk saat2 seperti itu, no matter how much money you have... it's useless...

Tuesday, March 4, 2008

Dua jalan sutra

Hampir seminggu ini, gw mengalami krisis kerjaan. Bukan karena terlalu banyak kerjaan sampe gw ga sanggup ngerjainny. Bukan juga karena kerjaan yang dikasih Pak Bos ke gw sangat susah, sampe gw merasa ga bisa menyelesaikannya. Dan juga bukan karena gw ngerasa kerjaan gw ga sesuai dengan idealisme gw. Tapi,... krisis kerjaan yang gw maksud di sini adalah ga adanya kerjaan yang bisa gw lakukan, alias gw nganggur... :D Yah.. sebetulnya ga totally nganggur sih.. gw lagi nunggu feedback dari client yang lama banget... Jadi selama menunggu bisa dikatakan gw idle :p

Mengisi kekosongan waktu, gw pake buat browsing hal2 yang menyenangkan dan menarik buat gw. Yah.. mumpung belum dikejar2 kerjaan, gw manfaatin waktu buat bersenang-senang :D Kayaknya pepatah yang sedang berlaku buat gw saat ini adalah, "berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian, Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian." =))

Setelah sampai pada titik bingung (karena merasa sudah semua yang menarik, gw mampirin), gw mulai mencari2 situs yang menurut gw bagus buat refreshing. Dan, terpikirlah oleh gw situs jalan sutera (itu lho.. situsnya Pak Bondan Winarno). Dan karena selama ini gw emang ga pernah browsing ke situ, jadi gw cuma menebak2 alamatnya. Dengan pedenya gw menuliskan alamat jalansutera.com, dengan harapan alamat itu bakal merujuk ke situs yang gw mau. Tidak berapa lama, terbukalah situs jalansutera.com. Pertama kali menelusuri situs itu, gw sama sekali tidak merasakan keanehan. Secara situs itu terlihat tidak jauh berbeda seperti situs2 pada umumnya.

Keanehan baru gw rasakan setelah membaca dua artikel yang gw lihat di halaman depan. Hmm.... kok sama sekali tidak berbau makanan yah... Artikel2 yang gw baca dua2nya malah menurut gw adalah sebuah lelucon (dan sangat menyegarkan). Karena penasaran, akhirnya gw telusurilah halaman itu, dan gw dapatkan identitas penulisnya (padahal identitas penulis ada paling atas, dasar dudul ;p). Ternyata, gw salah alamat alias nyasar. jalansutera.com sama sekali bukan situsnya Pak Bondan dan sama sekali tidak berbau kuliner. Alamat situs yang gw maksudkan yang sebenarnya adalah jalansutra.or.id...

Ckckck... kok bisa yah...

Ya. Kedua situs itu memang bener2 ada. Tidak ada kesamaan dalam segi penulis maupun content dari kedua situs itu, kecuali keduanya sama2 menyajikan bacaan yang menyegarkan pikiran... :)

Friday, February 22, 2008

Jakarta versi seorang supir taxi

Perjalanan Sudirman-Taman Mini yang ditempuh pada saat jam pulang kantor, sama sekali bukan pengalaman yang ingin dirasakan oleh setiap orang. Jalanan yang luar biasa macet, padatnya kendaraan, dan situasi jalanan yang kurang menyenangkan lainnya, bisa membuat orang lebih rela menunggu beberapa saat lagi sampe keadaan jalan sedikit membaik.

Tapi kemarin, gw ga punya banyak waktu untuk menunggu. Akhirnya, dengan terpaksa gw tempuh juga perjalanan itu. Berhubung gw berada di Soedirman dalam rangka tugas kantor, jadilah gw pilih sebuah Taxi untuk mengantarkan gw ke tempat tujuan... Toh tidak akan menambah pengeluaran :P

Dan rupanya hari itu adalah hari keberuntungan gw. Bapak supir Taxi yang gw tumpangi adalah seorang bapak separuh baya yang luar biasa ramah. Sepanjang jalan si Bapak menceritakan kisah demi kisah yang membuat perjalanan jadi terasa menyenangkan.

Bapak supir Taxi yang gw tumpangi semalam, sudah tinggal di Jakarta sejak tahun 1969. Dan menurut gw itu udah lama banget. Padahal si Bapak bukan orang Jakarta asli... Bapak supir Taxi bercerita bahwa Jakarta saat ini sudah berubah 120% (walaupun agak aneh membayangkan arti 120% itu).

Di setiap jalan yang kami lewati, si Bapak supir Taxi selalu menjelaskan kondisi jalan itu waktu
zamannya dulu. "Dulu itu ya Mbak, di sini tuh sawah..." Di tempat lain, "Di sini dulu itu perumahan lho Mbak.." Dan aku sering meresponnya dengan "ooo.. gitu ya Pak.." Buatku sulit membayangkan keadaaan Jakarta seperti yang Pak Supir Taxi gambarkan.

"Dulu, tidur di bawah kolong jembatan masih enak lho Mba. Coba sekarang, boro2 tidur di kolong jembatan, nongkrong aja orang dah ga betah." Entah kenapa dan ke mana kenyamanan itu menghilang?

Selain keadaan Jakarta, Bapak supir Taxi juga menceritakan mengenai keadaan transportasi Jakarta pada saat itu. Menurut ceritanya, dulu kendaraan umum masih sangat jarang. Dan semua kendaraan umum yang ada di Jakarta bermuara di satu titik, yaitu Lapangan Banteng. Bapak supir Taxi juga memperagakan gaya kondektur zaman dulu mempromosikan kendaraannya.
"Ayo..ayo.. Jakarta.. Jakarta.." Padahal, menurut Bapak supir Taxi, si kondektur berkata seperti itu di daerah2 seperti Cililitan, UKI, dan daerah2 lainnya. Pada waktu itu, menurut Bapak supir Taxi, yang dimaksud dengan Jakarta adalah daerah Lapangan Banteng dan sekitarnya. Ongkos naik kendaraan saat itu berkisar antara Rp7-Rp10. Um... kalo dibandingkan dengan zaman sekarang, tentu harga itu sangat2 murah.

Zaman dulu di Jakarta juga sudah ada Taxi. Bapak supir Taxi, sudah menarik Taxi sejak tahun 70-an. Hampir setiap seluk beluk jalan di Jakarta, Bapak supir Taxi tahu betul. Bahkan sampe lubang2 jalannya. Bapak supir Taxi bercerita kalau Taxi zaman dulu tidak ada yang ber-AC. Tapi untuk menunjukkan kemewahan Taxi dibanding kendaraan2 umum lainnya, Taxi pada waktu itu menggunakan kipas angin. Gw ga bisa membayangkan berada di kendaraan yang ada kipas anginnya. Bisa jadi bukannya nyaman, tapi malah kembung... :p

Akhir tahun 70-an mulai-lah ada kendaraan ber-AC dan tidak lama Taxi2 ber-AC pun bermunculan. Tapi, orang pada zaman dulu belum bisa menyesuaikan diri dengan AC. Banyak orang pada waktu itu yang malah kembung atau masuk angin berada di dalam kendaraan ber-AC. Alhasil, Taxi zaman dulu dibedakan menjadi Tasi AC dan Non-AC. Persis seperti sekarang, Taxi Tarif Lama dan Taxi Tarif Baru. Tarif-nya pun berbeda, untuk tarif Taxi Non-AC argo awal menunjukkan harga Rp.400, sedangkan Taxi AC argo awal menunjukkan harga Rp.600.

Bapak supir Taxi juga bercerita mengenai kondisi ekonomi dan politik pada masa pemerintahan presiden pada waktu itu. Untuk yang satu ini, gw males ah buat cerita, takut dianggap mendiskreditkan satu pihak (apalagi yang bersangkutan sudah mangkat).

"Tapi mbak, Jakarta ga cuma kotanya aja yang berubah. Warganya juga..." Kalimat itu sempat mampir di pikiran gw cukup lama. Gw memang ga tau betul, bagaimana kondisi warga Jakarta zaman dulu. Tapi, terus terang, gw sendiri merasa ga terlalu nyaman dengan sifat penduduk Jakarta.

"Sekarang orang dah kenal sopan santun Mbak. Anak kecil manggil orang yang seumuran ama kakeknya dengan sebutan 'Bang', hanya karena orang tersebut berprofesi sebagai supir angkot atau tukang jual makanan. Orang juga dah ga pernah permisi kalo lewat di depan orang tua."
Bapak supir taxi melanjutkan, "Kalo di jalan parah lagi Mbak. Orang mau belok kiri, ambil lajur kanan. Giliran di klaksonin, bales kasih klakson. Parah deh Mbak... "

Pikiranku melayang, tidak begitu kudengarkan lagi cerita Bapak supir taxi. Di pikiranku tergambar adegan2 yang diceriitakan oleh Bapak supir taxi. Dan harus kuakui, semua itu benar sekali...

Dan kemudian, pikiranku kembali ke cerita Bapak supir taxi.
"Yah... emang sih mbak, kata orang kalo mau jadi bangsa modern, harus begitu.."
Dalam hati aku berkata, "Benarkah seperti itu... Benarkah harga yang harus di bayar untuk sebuah modernisasi adalah hilangnya kepedulian dan sopan santun?.." Entah mengapa sulit sekali untuk setuju...

Tidak terasa, gw dah sampe di tujuan. Gw lihat argo menunjukkan harga Rp.35.500,00. Gw pun mengambil Rp50.000an, dan bilang, "10rb aja Pak kembaliannya". Rp4.500 gw anggap sebagai harga untuk cerita dan perjalanan yang luar biasa menyenangkan. Meskipun menurut gw, harga itu kurang sepadan dengan yang gw dapetin selama perjalanan itu...

Tuesday, February 19, 2008

Hidup ga bisa tanpa masalah

Gila yah... hidup itu emang ga bisa tanpa masalah. Baru aja PW di suatu keadaan, eh... tiba2 udah dateng masalah2 baru. Baru aja mau santai2, menikmati ketenangan, eh... udah ada aja yang gangguin.

Hhh...

Bahkan, ketika udah merasa aman berada di suatu tempat atau di suatu lingkungan, ga butuh waktu lama untuk tempat itu berubah menjadi suatu tempat yang malah bikin kita ga pengen berlama2 ria. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang bikin kita nyaman, ga berapa lama, orang itu udah bisa bikin kita marah, kesel, sakit hati, de el el...


Pengen banget bisa punya pintu ajaib. Pengen banget punya ilmu menghilangkan memori orang.
Tapi, itu semua ga mungkin banget.
So, the only thing that I can do is... Face it!! Coz others are waiting...

Monday, February 18, 2008

To Do List

Mungkin beberapa orang sudah akrab dengan sebutan itu. Yah.. sebuah daftar yang berisi hal2 yang mesti atau ingin di lakukan dalam beberapa waktu ke depan. Daftar itu di buat bisa jadi hanya sebagai pengingat karena yang bersangkutan kebetulan adalah seorang yang pelupa, atau bisa juga dibuat untuk memotivasi diri si pembuat to do list. Nah, buat gw selama ini 'to do list' lebih sering memiliki fungsi yang pertama, sebagai pengingat. Sebenernya sih, gw bukan orang yang pelupa2 amat, tapi gw termasuk orang yang males memenuhi otak gw untuk mengingat2 hal2 kecil dalam jumlah banyak. So, daripada gw mesti menyisihkan beberapa sel otak gw untuk mengingat hal2 kecil tersebut, gw lebih pilih untuk menuliskannya :D

Barusan gw mengunjungi rumah maya kepunyaan temen gw. Di salah satu postingannya, dia membuat sebuah to do list yang akan dilakukannya tahun ini. Mengunjungi pulau, membeli suatu barang, dan lain sebagainya. Tiba2 jadi teringat dengan keinginan2 dalam hidup gw. Ga pernah ada catatan khusus, untuk mengingatkan gw tentang keinginan2 itu. Hanya sesekali terlintas di pikiran gw. Setiap tahun isinya masih saja sama. Hanya mungkin bertambah sedikit. Ya... daftar keinginan hidup gw masih tetap sama dari tahun ke tahun. Tidak banyak berkurang, hanya sesekali bertambah.

Hmm... apa karena gw tidak pernah mencatatnya, maka tidak banyak dari keinginan2 itu yang terwujud. Apa karena hanya sesekali terlintas dalam pikiran, maka gw tidak pernah benar2 ingin mewujudkannya... Entahlah...

Rasanya membuat to do list hidup (bukan hanya to do list yang mengingatkan kita akan hal2 kecil), mungkin perlu juga dilakukan. Supaya tidak hanya sesekali teringat. Tidak hanya sesekali merasa ingin mewujudkan satu diantaranya... Hingga suatu hari nanti, gw bisa mendapati to do list hidup gw sudah banyak yang terwujud, dan mulai memikirkan, kira2 apa lagi yah yang ingin gw lakukan...

Um... kalo gw mulai membuat to do list dalam hidup gw, kira2 apa yah yang bakal gw taruh di nomor satu... :D

Sunday, February 10, 2008

Sehabis hari yang buruk, akan ada hari perbaikan

Hari ini luar biasa buruk.
Rasanya ingin sekali berteriak sekeras2nya. Ingin sekali menghilang. Bahkan kalau bisa, ingin sekali memutar balik waktu ke beberapa jam yang lalu.

Hari ini benar2 hari yang menyebalkan.
Rasanya ingin sekali menangis sekencang2nya. Ingin sekali memaki. Bahkan kalau bisa ingin sekali menghajar orang yang menyebabkan gw harus merasakan hal yang tidak menyenangkan ini.

Tapi, tiba2 teringat janji makan siang dengan seorang kawan lama yang gw buat pagi tadi. Gw pun langsung mengambil hp dan menelpon teman gw itu.

+ Hi, jadi kan makan siang bareng?
- Iyalah...
+ Ya udah, gw ada di lantai 1 nih, gw tunggu yah...
- Ok. Gw bentar lagi turun..

Gw pun menunggu temen gw turun ke lantai tempat gw berada saat itu. Segala perasaan masih bercampur aduk. Sebenarnya kalo saja gw ga enak ama temen gw, gw pengen banget membatalkan janji makan siang bareng. Gw lebih pilih pergi ke tempat2 yang bisa menenangkan dan mengusir perasaan tidak mengenakkan yang gw rasakan. Tapi, berhubung gw yang buat janji untuk makan siang bareng, kurang ajar aja rasanya kalo pas jam makan siang gw tiba2 membatalkan janji itu.

Ga lama, temen gw muncul. Setelah saling bersalaman dan cipika-cipiki (biasalah... perempuan), kami berdua mengambil duit di ATM dan langsung menuju kantin untuk makan siang. Kami berdua memilih menu yang sama, soto betawi. Entah mengapa, gw sedang ingin menikmati makanan berkuah, dengan harapan kuahnya bisa menyiram hati gw yang sedang panas2nya (harapan yang aneh..).

Semangkok soto betawi dan obrolan dengan seorang kawan lama, ternyata cukup menenangkan buat gw. Sehabis makan, perasaan gw bisa lebih gw kontrol daripada sebelumnya... Tidak lama setelah kami selesai makan, gw pun pamit untuk kembali melanjutkan rutinitas harian.

Hari ini memang luar biasa buruk dan menyebalkan buat gw, tapi gw ga bisa terus-menerus berlarut2. Gw tau, adalah sangat wajar kalau gw ingin sekali mengekspresikan kekesalan dan kekecewaan gw. Entah dengan menangis, marah2, berteriak, atau apapunlah... Tapi, setelah gw pikir2 lagi, buat apa semua itu? Cuma buang2 energi aja. Apa setelah menangis masalah gw selesai? Apakah setelah teriak2 gw bisa kembali ke beberapa jam yang lalu dan mencegah terjadinya masalah? Jawabannya sudah pasti tidak.

Di dalam perjalanan balik ke kantor, gw tersenyum dalam hati. Apa yang gw alami hari ini, adalah sesuatu yang harus gw alami sebagai bagian dari pembelajaran hidup. People do mistakes...

Orang yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi orang yang hebat, adalah orang yang bisa bangkit dari kesalahannya dan memperbaikinya (dikutip dari ucapan seorang bijak - gw lupa namanya-). Gw mungkin bukan orang yang hebat. Tapi, gw tau gw harus memperbaiki kesalahan yang sudah gw lakukan hari ini.

Ada saat di mana kita berbuat kesalahan. Mungkin ada saat untuk menyesali dan meratapinya. Tapi, pasti ada saat untuk memperbaikinya.

Sehabis hari yang buruk, akan ada hari perbaikan...