
Although it’s hard to believe that the kind of love that Edward has to Bella (and vice versa) does really exist, I think the book is nice. I almost can’t stop it. Somehow, for a while it brought me out of the real world. (lebay mode on :p)
Desember dan hujan, dua hal yang selalu mengukirkan senyum...

Hari ini gw baru aja menamatkan lembar terakhir dari novel ‘Sang Pemimpi’ karya Andrea Hirata. Yah… bisa di bilang gw terlambat. Di kala orang2 sudah tertulari semangat Laskar Pelangi dan mungkin banyak sekali orang yang sudah mulai menanamkan semangat tersebut di dalam diri masing2, gw baru saja mau memulai buku yang ketiga. Gw aja baru mulai memutuskan untuk membaca Laskar Pelangi setelah menonton filmnya. Sebetulnya gw udah lama diberitahu oleh banyak orang untuk membaca novel Laskar Pelangi. Tapi berhubung gw dah antipati dengan buku2 motivasi hidup, dan karena dari judulnya gw menafsirkan bahwa buku Laskar Pelangi juga merupakan buku tentang motivasi hidup, maka gw memutuskan untuk tidak akan pernah membaca buku tersebut. Yes, gw antipati dengan buku2 mengenai motivasi hidup. Karena entah mengapa, buku2 tersebut sepertinya menganggap bahwa cara pandang si motivator (yang juga adalah penulis bukunya) adalah cara pandang yang benar tentang hidup. Dan pada akhirnya, menyuruh kita untuk memiliki cara pandang yang sama. Yah, singkatnya gw kurang suka ada orang yang menggurui gw tentang bagaimana gw menjalani hidup gw, padahal hidup gw dengan hidup dia sama sekali berbeda. Hehehe... (sombong kali gw ini :p)
Ternyata Laskar Pelangi beda dengan bayangan gw. Akhirnya, gw harus menjilat ludah gw sendiri yang sudah bersumpah serapah ga mau baca tuh buku. Dan segera setelah gw menamatkan buku pertama, gw langsung berniat membaca yang kedua, ketiga, dan keempat. Jadilah, tadi sore gw menamatkan Sang Pemimpi. Setelah gw membaca novel yang kedua ini, gw langsung bilang ke temen2 gw bahwa gw jatuh cinta dengan si penulisnya. Jatuh cinta disini sama sekali bukan makna konotasi, meskipun mungkin sedikit berlebihan :p. Gw bahkan sempet berandai-andai bisa berkenalan langsung dengan si penulis dan bisa mengenal sosok Andrea dalam kehidupan sehari-hari (halah). Yah... tapi hal tersebut hanyalah sebuah ’andaikan’. Gimana bisa gw kenalan sama seseorang yang namanya sudah dikenal seantero nusantara dan bahkan sampai luar negeri? Mimpi.. :D
Terlepas dari kekaguman gw dengan Andrea Hirata, membaca Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi menimbulkan pertanyaan besar dalam diri gw sendiri. Apa sebenernya mimpi gw? Apa cita2 gw? Dan yang membuat gw sendiri kaget adalah, gw baru menanyakan hal itu ke diri gw sendiri sekarang, setelah membaca dua novel yang sebelumnya sempet ga mau gw baca. Selama ini gw cuma menjalani hidup gw apa adanya. Just go with the flow. Even without ever wondering where the flow will take me. Gw heran, ternyata kekuatan mimpi itu bener2 ada yahh… Dan bagaimana akhirnya, kekuatan yang sangat abstrak itu bisa menghasilkan hal2 besar.
Apa sebenernya mimpi gw? Berhari2, setelah membaca Laskar Pelangi dan dalam masa2 menamatkan Sang Pemimpi, pertanyaan itu muncul di benak gw. Apa yahh..? Perasaan ga muluk2 deh. Gw sama sekali ga bisa menemukan sebuah tempat sedahsyat Sorbonne ataupun ide sefantastis menjelajahi Eropa sampai Afrika di mimpi gw. Berkali2 gw menanyakan ke diri gw sendiri, apa bener ga ada hal2 menakjubkan di mimpi gw. Berkali2 juga gw mendapatkan jawaban yang sama. Gw cuma punya satu mimpi. Membahagiakan orang tua gw. Titik. Sangat2 abstrak dan sama sekali tidak memiliki tolak ukur keberhasilan yang jelas. Tapi, yah.. itulah mimpi gw. Mimpi yang sampai detik ini masih gw usahakan.
Gw mau melanjutkan mimpi Bapak gw dulu. Mimpi yang sering kali diceritakan ke kami, anak2nya dan akhirnya menancap kuat di pikiran gw. Bapak kepengen banget membuat penyimpangan besar dalam daftar mata pencarian yang digeluti keluarga kami sejak kakek moyang gw dulu. Di mana petani menjadi mata pencarian terbanyak yang pernah dilakoni oleh pendahulu2 gw. Sisanya, pedagang, buruh pabrik, menggarap sawah sewaan (menurut gw ini beda dari menjadi petani di sawah sendiri), dan profesi2 lainnya yang membuat keluarga kakek2 gw dulu masuk ke dalam golongan masyarakat biasa-biasa saja, bahkan mungkin kurang biasa.
Entah dapet ilham dari mana, Bapak tiba2 melakukan gebrakan dengan nekat kuliah. Di kala temen2 sebayanya di kampung mencoba mencari pekerjaan dengan berbekal ijazah SMA, dan ujung2nya menjadi petani juga. Mbah kakung gw sendiri dah terang2an bilang ga sanggup membiayai kuliah Bapak. Tapi, Bapak tetep nekat. Akhirnya, Bapak berangkat ke Solo untuk mendaftar, apa ya namanya waktu itu (kalo sekarang sih sebutannya SPMB), dengan uang hasil menjual ayam ternaknya yang cuma beberapa ekor termasuk anak2nya. Dan entah bagaimana, Bapak gw sendiri aja sampe heran, beliau di terima di Fakultas Sastra UNS. Jurusan sastra juga dengan terpaksa di pilih Bapak karena dulu SMA Aliyah hanya boleh memilih jurusan IPS SAJA. Padahal mata pelajaran favorit Bapak dulu adalah Biologi. Tapi karena ingin kuliah, maka jurusan apa saja Bapak pilih, asal bisa kuliah. Dan sejak itu, Bapak gw menjadi satu2nya pemuda di kampungnya yang melanjutkan pendidikan setelah tamat SMA.
Singkat cerita, sampai lah Bapak di Jakarta, cuma bermodal nekat. Dan sekarang Alhamdulillah, kami sekeluarga bersyukur, mimpi Bapak bisa terwujud. Setidaknya untuk keluarganya, Bapak dianggap sebagai pendobrak yang meningkatkan martabat keluarga. Sayangnya, ya sayangnya, semangat mendobrak keadaan keluarga hanya di miliki oleh Bapak gw doang. Kenyataannya bude2 dan bulik2 gw keadaannya masih begitu2 aja. Hhhh....
Jadilah, mimpi itu ditularkan oleh Bapak ke gw. Ditambah melihat keadaan keluarga besar gw yang begitu2 aja, membuat gw semakin berkeinginan menjadi orang sukses. Yah gw tau, pengertian sukses sangatlah relatif. Tapi, sampai saat ini gw mengartikan sukses sebagai memiliki rumah besar, ada kolam renangnya, dan bisa jalan2 ke luar negeri dengan mudahnya... Hehehe... sangat materialistis... Tapi, ya itulah, definisi sukses yang ada di pikiran gw sekarang. Atau bisa di bilang sukses buat gw adalah memiliki hal2 yang belum gw, ataupun keluarga besar gw, miliki. Dan semua yang gw sebutkan tadi mewakili hal2 tersebut.
And I’m still working on my dream, my Dad’s dream. Menjadi orang sukses….
PS: Gw heran bagaimana Mas Andrea Hirata melalui tulisannya, bisa membuat gw membuat curhatan sepanjang ini… :p
Beberapa waktu belakangan ini, gw agak ragu untuk membeli roti BreadTalk. Pasalnya, gw membaca di salah satu milis langganan gw bahwa label halal dari BreadTalk telah dicabut oleh MUI. Tetapi sampai detik ini saya tidak tahu alasan kenapa dicabut, apakah terjadi penyelewengan aturan sehingga membuat BreadTalk tidak halal lagi, atau apa? Belum ketemu penjelasannya. Sampai pada minggu lalu, pulang dari Bengkulu (9 Juni 2008), turun dari bus DAMRI gw masuk ke Botani Square. Pikir gw, beliin oleh-oleh ah, nggak enak gak bawa apa-apa dari jauh.
Sampai di outlet BreadTalk, gw coba muter-muter nyari logo Halal BreadTalk. Yah, memang nggak gw temuin. Tidak sampai disitu, gw coba tanya ke mbak-mbak kasir BreadTalk. Berikut liputannya:Gw: Mbak, Kalo BreadTalk itu ada label halalnya nggak ya?
Mbak 1: Oh, kalo kita halal mas, prosesnya pun halal. Dijamin halal deh.
Gw: Maksud saya, BreadTalk punya label halal nggak?
Mbak 1: Kalo label halal kita nggak ada, tapi kita halal kok mas.
Gw: Jadi, BreadTalk nggak punya label halal?
Mbak 2: Kalo untuk urusan label halal itu urusan H.O. mas, kita kan hanya outlet, tapi kita halal kok.Hmpf.. aneh juga nih mbak2, gw force aja
Gw: Jadi, BreadTalk nggak ada label halalnya ya?
Mbak 2: Kalo itu urusan H.O. mas, mas bisa tanya langsung ke sana.
Gw: (kesempetan nih) ada no telponnya mbak?
Mbak 2: Ada mas, bentar ya, saya panggil manager saya.
Mbak 2: (manggil2 pake tangan) pak petrus.. panggil pak petrusKemudian muncullah pak Petrus, sepertinya manager outlet BreadTalk di BotaniSquare.
Petrus: Ada yg bisa saya bantu pak?
Gw: Ini pak, saya mau tanya, kalo BreadTalk itu ada label halalnya nggak ya?
Petrus: Hm… bapak ini dari mana? customer biasa aja?
Gw: Iya, saya hanya customer biasa. Hanya ingin tau.
Petrus: Sampai April ini masih ada pak, tapi sekarang sudah nggak.
Gw: Lho, kok bisa, kenapa ya?
Petrus: Hm.. kalo itu urusannya sama H.O. pak, kalo kita hanya outlet saja, nggak tau apa-apa.
Gw: Ada no telpon yg bisa dihubungi?
Petrus: Oh, ada. 021xxxxxx, dengan Ibu Gita (sorry lupa, ntar gw update, nomernya ada di hp gw yg atu lagi)
Gw: Ok, makasih pak.
Petrus: Kembali..Jalan menuju pintu depan Boqer, gw telponlah H.O. BreadTalk.
Cewek: Selamat siang, dengan ### bisa dibantu?
Gw: Bisa bicara dengan Ibu Gita mbak?
Cewek: Dari mana ini pak?
Gw: Saya Harry, Customer BreadTalk.
Cewek: Baik, ditunggu sebentar pak.ting nung teleleng teng teng… teng tong teng… (nada tunggu)
Cewek: Maaf, pak Ibu Gita-nya belum selesai meeting, ada yang bisa dibantu?
Gw: Ini mbak, saya mau tanya tentang label halal BreadTalk, tadi saya tanya outletnya dia bilang hubungi H.O. saja.
Cewek: Oh, baik pak, saya hubungkan dengan Sales Marketing yang lain ya. Silahkan ditunggu…teng toleng teng teng… lamaaaa, gw ampe mulai berfikir kotor nih… lalu tiba-tiba
Sherly: Ada yg bisa dibantu pak?
Gw: Ini mbak, saya mau tanya, kalo BreadTalk itu ada label halalnya nggak ya? tadi saya tanya sama outlet, katanya sampai April masih ada, tapi sekarang nggak ada. Gimana itu mbak?
Sherly: Memang benar pak, sampai April kami masih ada label halal, tapi sekarang nggak ada karena dalam masa perpanjangan. Soalnya ngurusnya ribet ya pak, dan mahal lagi. Tapi kita halal kok pak, semua prosedur dan metode kita, semuanya mengikuti aturan MUI, hanya sertifikatnya saja belum keluar.
Gw: Oh gitu, berarti tinggal sertifikat ya, semuanya sebetulnya halal.
Sherly: Iya pak, soalnya ribet ya ngurusnya, dan mahal lagi. Tapi kita halal kok pak. Oh iya, bapak ini dari mana ya?
Gw: Saya Harry, customer BreadTalk biasa. Saya suka BreadTalk mbak, tapi saya denger dari Internet kalo label halal BreadTalk dicabut. Nah, saya nggak mau cuman denger-denger aja, makannya saya confirm ke outlet & saya telpon H.O. BreadTalk. Itu berita bener nggak ya mbak?
Sherly: Betul pak, itu berita betul. Dan sekarang kami sedang mengurus perpanjangan sertifikat halal. Cuman kan ngurusnya ribet ya pak, dan mahal lagi.
Gw: Ok, berarti BreadTalk sebetulnya Halal, semua proses & bahan mengikuti aturan MUI ya? Hanya sertifikatnya saja yang belum keluar karena masih dalam proses?
Sherly: Iya pak, benar. Soalnya ngurusnya ribet pak.
Gw: Kenapa, nggak sebelum expired aja mbak diurus?
Sherly: Ya karena ribet itu pak, dan mahal. Jadi sampe sekarang masih diurus.
Gw: Kira-kira kapan selesainya mbak?
Sherly: Hmmm belum tau ya pak, soalnya masih diurus.
Gw: Ok deh kalo gitu, dengan mbak siapa saya bicara?
Sherly: Saya, sherly pak.
Gw: Baik mbak sherly, terima kasih.
Sherly: Sama-sama pak.Bingung jadinya. Ini yang nggak bener BreadTalk atau MUI? Kalo dibilang ribet & mahal, banyak juga outlet/resto2 kecil yang punya label ini (resmi ya). Hmmm atau mungkin MUI membedakan antara outlet kecil dan besar, sehingga untuk BreadTalk yang internasional, harganya jadi mahal, atau mungkin premanisme/praktek pemerasan?. Harapan saya sih, jika ada label halal yang dicabut/expired MUI bisa memberikan keterangan jelas, misal:
Contoh 1. Sertifikat dicabut: Karena pake Ang Ciu (Arak Merah).
Contoh 2. Sertifikat kadaluarsa: Outlet belum memperpanjang.
Contoh 3. Sertifikat kadaluarsa: Sedang dalam proses perpanjangan.Begituh… Oke deh, mudah-mudahan info ini berguna. Oh iya, akhirnya: gw gak jadi beli BreadTalk, khawatir aja, soalnya nggak tau nih yang nggak beres disisi siapa, BreadTalk kah? atau MUI?